Thursday, January 26, 2017

Menyimak: Perayaan Siwa Ratri Sebaiknya Dilarang



Hari ini tiba-tiba saya dibuat buyar dan penasaran dengan sebuah artikel yang ditulis di sebuah forum Kompasiana dengan judul "Perayaan Siwa Ratri Sebaiknya Dilarang. Artikel tersebut telah ditulis sejak tahun 2012 silam Oleh I Ketut Mertamupu. namun tetap menarik setiap datangnya hari raya siwa ratri.

Berikut Ulasannya:

Sehari sebelum Tilem sasih Kapitu atau yang sering di sebut prawaning tilem kapitu, umat hindu memperingati Hari Siwaratri. Siwaratri adalah hari suci untuk melaksanakan pemujaan ke hadapan Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Siwa. Siwar√Ętri juga disebut hari suci pajagran, yang jatuh pada hari Catur Dasi Krsna paksa bulan Magha (panglong ping 14 sasih Kapitu). 

Hakekat hari suci Siwaratri adalah sebagai media introsfeksi diri untuk senantiasa mawas diri serta menyadari akan Sang Diri Sejati (Gede Manik, S.Ag:WHD. No. 492,2008). Siwaratri merupakan perenungan diri sehingga dapat meminimalkan perbuatan dosa dalam kehidupan sehari-hari. Adalah tanpa makna jika merayakan Siwaratri justru yang diperoleh hanya kantuk dan lapar yang sangat menyiksa. (Gede Manik, Loc.Cit).


Perayaan Siwa Ratri bersumberkan pada beberapa literatur Hindu seperti Shiwa Purana, Skanda Purana, Kakawin Siwa Ratri Kalpa dan lain sebagainya, dan bahkan terdapat sumber dari Eropa. Di Indonesia bersumberkan pada Kakawin Siwaratri Kalpa. Kisah yang sudah tidak asing bagi umat Hindu adalah kisah Sang Lubdaka. 

Dikisahkan seorang pemburu profesional bernama Lubdaka. Pada suatu hari yang kebetulan bertepatan dengan hari menjelang malam Shiwa, Lubdaka berburu ke hutan, tetapi karena bernasib sial, Ia tidak menemukan satu ekorpun buruan yang Ia cari seharian, hingga akhirnya Sang Lubdaka menginap di hutan. 

Karena takut dengan binatang buas, ia memanjat pohon dan berbaring pada batang pohon Bilva/Maja (pohon kesayangan Tuhan Shiwa). Untuk menghilangkan kantuknya, Sang Lubdaka memetik daun Bilwa satu per satu hingga pagi hari. Tanpa disadari daun yang dijatuhkan mengenai Siva Lingga (yaitu sarana memuja Tuhan yang berbentuk Lingga-Yoni). 

Setelah pagi hari Lubdaka pulang ke rumah tanpa membawa buruan. Hingga suatu hari Sang Lubdaka meninggal, meski sang pemburu ini sebagai pembunuh binatang ternyata arwahnya ketika disiksa dan diseret ke Neraka oleh Yama Duta (pengawal Bhatara Yama), tetapi tidak diizinkan untuk dibawa ke neraka oleh para Gana. maka terjadilah perang antara pengawal Shiwa dengan pengawal Yama, hingga akhirnya arwah Sang Lubdaka dibawa ke Siwa Loka (surga) oleh para Gana (pengawal Bhatara Shiwa) atas perintah Bhatara Shiwa.


Karena ternyata Tuhan berkenan pada Lundaka, sebab ia pernah memuja beliau disaat malam Siwa (Siwa Ratri) dengan tidak sengaja. Untuk mendukung kisah Lubdaka, orang yang jahat memperoleh surga. Didalam Bhagavad Gita disebutkan bahwa “Meskipun seseorang melakukan perbuatan yang paling jijik, kalau ia tekun dalam bhakti, ia harus diakui sebagai orang suci karena ia mantap dalam ketabahan hatinya dengan cara yang benar. 

Dalam waktu yang singkat ia menjadi saleh dan mencapai kedamaian yang abadi. Wahai putera Kunti, nyatakanlah dengan berani bahwa penyembah-Ku tidak akan pernah binasa. Wahai putera Prtha, orang yang berlindung kepada-Ku, walaupun mereka dilahirkan dalam keadaan yang lebih rendah, atau wanita, vaisya [pedagang] dan sudra [buruh] semua dapat mencapai tujuan tertinggi” (Bhagavad Gita 9.30-32) Dari kisah itu sebenarnya bahwa kita diajarkan untuk membantai musuh dalam diri (Sad Ripu/enam musuh dalam diri) dan memburu Tuhan hingga ke hutan (keheningan) dan tentunya dengan memuja Tuhan dengan mengidungkan nama suci Tuhan yaitu “Om Namah Shiwa Ya” dalam mendaki tangga spiritual. 

Binatang buas yang dimaksudkan adalah dunia material yang selalu hadir dalam kehidupan kita, sehingga kita harus mawas diri agar kita tidak terjebak oleh tujuh sifat kegelapan (Sapta Timira). Pembaca bisa klik disini tafsiran yang lebih mendalam dari kisah Lubdaka. Konon padamulanya perayaan Shiwa Ratri hanya dilakukan oleh kalangan tertentu, misalnya oleh Grhastin (orang yang sudah berkeluarga), pemangku (pinandita, pendeta), sulinggih (Brahmana). 

Tetapi setelah adanya lembaga PHDI, Shiwa Ratri diperkenalkan pada masyarkat umum, bahkan pada saat ini juga dirayakan oleh anak SD sekalipun. Kemudian apa yang terjadi? Shiwa Ratri hanya sekedar seremonial bahkan terjadi “pesta s3ks ketika malam Shiwa Ratri” (Ini baru satu kasus yang saya tahu dari penuturan seorang teman). Tetapi yang lebih banyak terjadi adalah Penyimpangan Sosial Perayaan Siwaratri (silakan di klik penelusuran saya tahun lalu) dan baca pula Siwa Ratri, Malam Penebusan Dosa Ataukah Menambah Dosa?. 

Berdasarkan pertimbangan tersebut, sebaiknya perayaan Shiwa Ratri dilarang bagi mereka yang masih muda atau remaja (belum sadar). Kita kembalikan seperti dulu, Shiwa Ratri hanya cocok dirayakan oleh mereka yang sudah dewasa (sadar), baik dewasa secara spiritual maupun umur. Karena apabila dirayakan oleh mereka yang belum dewasa secara spiritual dan juga umur, perayaan Shiwa Ratri justru disalahgunakan untuk mencari pacar, s3ks bebas, bukan dijadikan moment mencari Tuhan. 

Kembali pada hakekat merayakan Shiwa Ratri, mari kita memburu Tuhan dan kebajikan dengan membunuh musuh-musuh dalam diri dengan memohon tuntunan Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar mampu jagra (tidak tidur) yang bermakna selalu mawas diri “eling lan waspada”, mona brata (tidak berbicara) yang bermakna selalu mengendalikan pembicaraan. Dan upawasa (puasa) yang bertujuan mengendalikan makan dan minum. Serta berjapa yang bermakna mengidungkan nama suci Tuhan, khususnya Japa Mantra Shiwa “Om Namah Shiwa Ya”. 

Semua itu seharusnya dilakukan dalam kehidupan sehari-hari bukan hanya pada perayaan Shiwa Ratri. Pembaca boleh menganggap saya sinting dan gendeng, tetapi lebih gila dan sinting apabila perayaan Shiwa Ratri yang suci dibiarkan dinodai oleh manusia yang tidak bertanggungjawab. Berkedok merayakan Shiwa Ratri tetapi hanya sekedar seremonial belaka dan bersuka ria bersama kekasih (khusus yang remaja), bahkan melakukan tindakan senonoh pada perayaan Shiwa Ratri yang memang dirayakan semalam suntuk.

Sumber : http://suarasulbar.blogspot.co.id/

close
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Menyimak: Perayaan Siwa Ratri Sebaiknya Dilarang

0 komentar:

Post a Comment